Pluralisme Bertentangan Dengan Islam
: Haram Menyebarkan dan Menerapkannya
Oleh : Syamsuddin Ramadhan
Bersamaan dengan meninggalnya Gus Dur, isu pluralisme
kembali menjadi perbincangan. Presiden SBY pun secara khusus memberikan gelar
“Bapak Pluralisme” untuk Gus Dur. Padahal MUI sendiri dalam fatwanya No.7/MUNAS
VII/MUI/11/2005 telah dengan jelas-jelas menyebutkan bahwa pluralisme adalah
paham yang bertentangan dengan ajaran agama Islam, dan umat Islam haram
mengikuti paham tersebut. Bagaimana sesungguhnya pluralisme itu dan bagaimana
pandangan Islam terhadapnya ?
Pluralisme didefinisikan sebagai paham yang mengakui
adanya pemikiran beragam -agama, kebudayaan, peradaban, dan lain-lain.
Kadang-kadang pluralisme juga diartikan sebagai paham yang menyatakan, bahwa
kekuasaan negara harus diserahkan kepada beberapa golongan (kelompok), dan
tidak boleh dimonopoli hanya oleh satu golongan. Merujuk pada definisi kedua
ini, Ernest Gellner menyebut model masyarakat yang menjunjung tinggi hukum dan
hak-hak individu sebagai masyarakat sipil (civil society). Gellner juga
menyatakan bahwa civil society merupakan ide yang menggambarkan suatu
masyarakat yang terdiri dari lembaga-lembaga otonom yang mampu mengimbangi
kekuasaan negara.
Kemunculan ide pluralisme –terutama pluralisme agama-
didasarkan pada sebuah keinginan untuk melenyapkan truth claim yang
dianggap sebagai pemicu munculnya ekstrimitas, radikalisme agama, perang atas
nama agama, konflik horizontal, serta penindasan antar umat agama atas nama
agama. Menurut kaum pluralis, konflik dan kekerasan dengan mengatasnamakan
agama baru sirna jika masing-masing agama tidak lagi menganggap agamanya paling
benar (lenyapnya truth claim). Adapun dilihat dari cara menghapus truth
claim, kaum pluralis terbagi menjadi dua kelompok besar. Kelompok pertama
berusaha menghapus identitas agama-agama, dan menyerukan terbentuknya agama
universal yang mesti dianut seluruh umat manusia. Menurut mereka, cara yang
paling tepat untuk menghapus truth claim adalah mencairkan identitas agama-agama,
dan mendirikan apa yang disebut dengan agama universal (global religion).
Sedangkan kelompok kedua menggagas adanya kesatuan dalam hal-hal transenden (unity
of transenden). Dengan kata lain, identitas agama-agama masih
dipertahankan, namun semua agama harus dipandang memiliki aspek gnosis yang
sama. Menurut kelompok kedua ini, semua agama pada dasarnya menyembah Tuhan
yang sama, meskipun cara penyembahannya berbeda-beda. Gagasan kelompok kedua
ini bertumpu pada ajaran filsafat perennial yang memandang semua agama
menyembah Realitas Mutlak yang sama, dengan cara penyembahan yang berbeda-beda.
Inilah gagasan-gagasan penting seputar ide pluralisme
agama yang saat ini dipropagandakan di dunia Islam melalui berbagai cara dan
media, misalnya dialog lintas agama, doa bersama, dan lain sebagainya. Pada
ranah politik, ide pluralisme didukung oleh kebijakan pemerintah yang harus
mengacu kepada HAM dan asas demokrasi. Negara memberikan jaminan sepenuhnya
kepada setiap warga Negara untuk beragama, pindah agama (murtad), bahkan
mendirikan agama baru. Setiap orang wajib menjunjung tinggi prinsip kebebasan
berfikir dan beragama, seperti yang dicetuskan oleh para penggagas paham
pluralisme.
Argumentasi
Para Penggagas Pluralisme Agama dan Koreksinya
Meskipun ide pluralisme –baik yang beraliran agama
global maupun kesatuan transenden — ditujukan untuk meredam konflik akibat
adanya keragaman agama, dan truth claim, namun ide ini ujung-ujungnya malah
menambah jumlah agama baru dengan truth claim yang baru pula. Wajar saja jika
ide ini mendapat tantangan keras dari agama beserta pemeluknya, terutama Islam
dan kaum Muslim. Oleh karena itu, para pengusung gagasan pluralisme berusaha
dengan keras mencari pembenaran dalam teks-teks agama agar paham ini
(pluralisme) bisa diterima oleh kaum Muslim. Adapun alasan-alasan yang sering
mereka ketengahkan untuk membenarkan ide pluralisme tersebut adalah sebagai
berikut:
a. Surat
al-Hujurat Ayat 13
Allah swt
telah berfirman;
يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ
وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ
عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Wahai
manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan, dan
Kami menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal.
Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian adalah orang yang paling
bertaqwa di sisi Allah. “(al-Hujurat 49:13).
Menurut kaum
pluralis, ayat ini menunjukkan adanya pengakuan Islam terhadap ide pluralisme.
Koreksi:
Pada dasarnya, ayat ini sama sekali tidak berhubungan
dengan ide pluralisme agama yang diajarkan oleh kaum pluralis. Ayat ini hanya
menjelaskan keberagaman (pluralitas) suku dan bangsa. Ayat ini sama sekali
tidak menunjukkan bahwa Islam mengakui ‘klaim-klaim kebenaran” (truth claim)
dari agama-agama, isme-isme, dan peradaban-peradaban selain Islam. Ayat ini
juga tidak mungkin dipahami, bahwa Islam mengakui keyakinan kaum pluralis yang
menyatakan, bahwa semua agama yang ada di dunia ini menyembah Satu Tuhan,
seperti Tuhan yang disembah oleh kaum Muslim. Ayat ini juga tidak mungkin
diartikan, bahwa Islam telah memerintahkan umatnya untuk melepaskan diri dari
identitas agama Islam, dan memeluk agama global (pluralisme). Ayat ini hanya
menerangkan, bahwa Islam mengakui adanya pluralitas (keragaman) suku dan
bangsa, serta identitas-identitas agama selain Islam; dan sama sekali tidak
mengakui kebenaran ide pluralisme.
Agar kita bisa memahami makna ayat tersebut di atas,
ada baiknya kita simak kembali penjelasan para mufassir yang memiliki
kredibilitas ilmu dan ketaqwaan.
Dalam kitab Shafwaat al-Tafaasir, Ali
al-Shabuniy menyatakan, “Pada dasarnya, umat manusia diciptakan Allah Subhanahu
wa Ta’ala dengan asal-usul yang sama, yakni keturunan Nabi Adam as.
Tendensinya, agar manusia tidak membangga-banggkan nenek moyang mereka.
Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan mereka bersuku-suku dan
berbangsa-bangsa, agar mereka saling mengenal dan bersatu, bukan untuk
bermusuhan dan berselisih. Mujahid berkata, “Agar manusia mengetahui nasabnya;
sehingga bisa dikatakan bahwa si fulan bin fulan dari kabilah anu’. Syekh Zadah
berkata, “Hikmah dijadikannya kalian bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar satu
dengan yang lain mengetahui nasabnya. Sehingga, mereka tidak menasabkan kepada
yang lain….Akan tetapi semua itu tidak ada yang lebih agung dan mulia, kecuali
keimanan dan ketaqwaannya. Sebagaimana sabda Rasulullah Salallahu ‘Alaihi
Wassalam, “Barangsiapa menempuhnya ia akan menjadi manusia paling mulia,
yakni, bertaqwalah kepada Allah.”
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan, bahwa surat
Hujurat ayat 13 hanya menunjukkan bahwa Islam mengakui adanya pluralitas
(keragaman) suku, bangsa, agama, dan lain-lain. Adanya keragaman suku, bangsa,
bahasa, dan agama merupakan perkara alami. Hanya saja, Islam tidak pernah
mengajarkan bahwa semua agama adalah sama-sama benarnya. Islam juga tidak
pernah mengajarkan bahwa semua agama menyembah Tuhan yang sama, meskipun cara
penyembahannya berbeda-beda. Bahkan, Islam menolak klaim kebenaran yang
dikemukakan oleh penganut-penganut agama selain Islam, dan menyeru seluruh umat
manusia untuk masuk ke dalam Islam, jika mereka ingin selamat dari siksa api
neraka. Perhatikan ayat-ayat berikut ini;
لِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا هُمْ نَاسِكُوهُ
فَلَا يُنَازِعُنَّكَ فِي الْأَمْرِ وَادْعُ إِلَى رَبِّكَ إِنَّكَ لَعَلَى هُدًى
مُسْتَقِيمٍ(٦٧)وَإِنْ جَادَلُوكَ فَقُلِ اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا
تَعْمَلُونَ(٦٨)اللَّهُ يَحْكُمُ بَيْنَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِيمَا كُنْتُمْ
فِيهِ تَخْتَلِفُونَ(٦٩)أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي
السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ إِنَّ ذَلِكَ فِي كِتَابٍ إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ
يَسِيرٌ(٧٠)وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا
وَمَا لَيْسَ لَهُمْ بِهِ عِلْمٌ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَصِير (٧١)
“Tiap umat mempunyai cara peribadatan sendiri,
janganlah kiranya mereka membantahmu dalam hal ini. Ajaklah mereka ke jalan
Rabbmu. Engkau berada di atas jalan yang benar.” Kalau mereka membantahmu juga,
katakanlah, Allah tahu apa yang kalian kerjakan. Rabb akan memutuskan apa yang
kami perselisihkan di hari akhir. Apa mereka tidak tahu bahwa Allah mengetahui
apa yang ada di langit dan bumi. Semua itu ada di dalam pengetahuanNya , semua
itu mudah bagi Allah. Mereka menyembah selain Allah tanpa keterangan yang
diturunkan Allah, tanpa dasar ilmu. Mereka adalah orang-orang dzalim yang tidak
mempunyai pembela.” (al-Hajj 22:67-71).
Ayat ini dengan tegas menyatakan, bahwa Islam mengakui
adanya pluralitas (keragaman) agama. Hanya saja, Islam tidak pernah mengakui
kebenaran (truth claim) agama-agama selain Islam. Tidak hanya itu saja, ayat
ini juga menegaskan bahwa agama-agama selain Islam itu sesungguhnya menyembah
kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Lalu, bagaimana bisa
dinyatakan, bahwa Islam mengakui ide pluralisme yang menyatakan bahwa semua
agama adalah sama-sama benarnya, dan menyembah kepada Tuhan yang sama?
Di ayat yang
lain, al-Quran juga menegaskan bahwa agama yang diridloi di sisi Allah swt
hanyalah agama Islam.
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ
“Sesungguhnya agama yang diridlai di sisi Allah
hanyalah Islam.” (Ali Imran 3:19).
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ
يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Barangsiapa
mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)
daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.” (Ali Imran
3:85).
Pada tempat yang lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala
menolak klaim kebenaran semua agama selain Islam, baik Yahudi dan Nashrani,
Zoroaster, dan lain sebagainya. Al-Quran telah menyatakan masalah ini dengan
sangat jelas.
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ
أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا أَشَدُّ حُبًّا
لِلَّهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ
الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ
“Dan
diantara manusia ada yang mendewa-dewakan selain daripada Allah, dan
mencintainya sebagaimana mencintai Rabb, lain dengan orang yang beriman, mereka
lebih mencintai Allah. Kalau orang lalim itu tahu waktu melihat adzab Allah
niscaya mereka sadar sesungguhnya semua kekuatan itu milik Allah, dan Allah
amat pedih siksa-Nya.”(al-Baqarah 2:165).
وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ
النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ذَلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ
يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى
يُؤْفَكُونَ
“Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Allah”
dan orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putera Allah”. Demikian itulah ucapan
mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang
terdahulu. Dila`nati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling?”
(al-Taubah 9:30)
اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا
مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا
لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا
يُشْرِكُونَ
“Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan
rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan)
Al Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha
Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari
apa yang mereka persekutukan.” (al-Taubah 9:31)
وَقَالَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى نَحْنُ أَبْنَاءُ
اللَّهِ وَأَحِبَّاؤُهُ قُلْ فَلِمَ يُعَذِّبُكُمْ بِذُنُوبِكُمْ بَلْ أَنْتُمْ
بَشَرٌ مِمَّنْ خَلَقَ يَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ
وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَإِلَيْهِ
الْمَصِيرُ
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: “Kami ini
adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya”. Katakanlah: “Maka mengapa
Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu?” (Kamu bukanlah anak-anak Allah dan
kekasih-kekasih-Nya), tetapi kamu adalah manusia (biasa) di antara orang-orang
yang diciptakan-Nya. Dia mengampuni bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan
menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit
dan bumi serta apa yang ada antara keduanya. Dan kepada Allah-lah kembali
(segala sesuatu).” (al-Maidah 5:18)
لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ
الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ
“Sungguh telah kafir, mereka yang mengatakan, “Tuhan
itu ialah Isa al-Masih putera Maryam.”(al-Maidah 5:72)
Ayat-ayat di atas – dan masih banyak ayat yang lain –
menyatakan dengan sangat jelas (qath’iy), bahwa Islam telah menolak truth claim
semua agama selain Islam. Islam juga menyatakan dengan tegas, bahwa konsepsi
Ketuhanan Islam berbeda dengan agama selain Islam yang ada pada saat ini, alias
tidak sama. Sedangkan agama Yahudi dan Nashrani sebelum disimpangkan oleh
penganutnya, dahulunya masih memiliki konsepsi ketuhanan yang sama dengan agama
Islam, yakni tauhid. Hanya saja, karena keculasan para penganutnya, akhirnya
dua agama menyimpang jauh dari konsepsi tauhid. Dari sini bisa dipahami, bahwa
Islam tidak sama dengan agama yang lain yang ada pada saat ini, baik dari sisi
cara penyembahan (bentuk empirik), maupun konsepsi ketuhanannya (aspek gnosis).
Fakta nash telah menunjukkan kesimpulan ini dengan sangat jelas. Oleh karena
itu, menyamakan Islam dengan agama selain Islam jelas-jelas keliru dan
menyesatkan, bahkan terkesan dipaksakan.
Seandainya ide pluralisme agama ini memang diakui di
dalam Islam, berarti, tidak ada satupun orang yang masuk ke neraka dan kekal di
dalamnya. Padahal, al-Quran telah menjelaskan dengan sangat jelas, bahwa orang
Yahudi, Nashrani, dan kaum Musyrik, tidak mungkin masuk ke surganya Allah, akan
tetapi mereka kekal di dalam neraka. Perhatikan ayat berikut ini.
وَقَالُوا لَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ كَانَ
هُودًا أَوْ نَصَارَى تِلْكَ أَمَانِيُّهُمْ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ
كُنْتُمْ صَادِقِينَ
“Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: “Sekali-kali
tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau
Nasrani”. Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka.
Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar”.
(al-Baqarah 2:111)
Dari seluruh uraian di atas dapat disimpulkan, bahwa
surat al-Hujurat ayat 13 bukanlah pembenar bagi ide pluralisme agama. Ayat
tersebut hanya berbicara pada konteks pluralitas suku, bangsa, dan agama, dan
sama sekali tidak berbicara pada konteks gagasan pluralisme, seperti yang
diklaim para pengusung ide pluralisme. Bahkan, nash-nash al-Quran jelas-jelas
telah menyatakan pertentangan Islam dengan ide pluralisme.
Demikianlah, Islam sama sekali tidak mengakui
kebenaran ide pluralisme, baik ide agama global maupun kesatuan transenden.
Islam hanya mengakui adanya pluralitas agama dan keyakinan, serta mengakui
adanya identitas agama-agama selain Islam. Islam tidak memaksa pemeluk agama
lain untuk masuk Islam. Mereka dibiarkan memeluk keyakinan dan agama mereka.
Hanya saja, pengakuan Islam terhadap pluralitas agama tidak boleh dipahami
bahwa Islam juga mengakui kebenaran (truth claim) agama selain Islam.
Adapun untuk memecahkan masalah pluralitas agama dan
keyakinan, Islam memiliki sikap dan pandangan yang jelas; yakni mengakui
identitas agama-agama selain Islam, dan membiarkan pemeluknya tetap dalam agama
dan keyakinannya. Islam tidak akan melenyapkan identitas agama-agama selain
Islam, seperti gagasan kelompok pluralis pertama (global religion).
Akhirnya, pluralisme adalah paham sesat yang bertentangan
‘aqidah Islam. Siapapun yang mengakui kebenaran agama selain Islam, atau
menyakini bahwa orang Yahudi dan Nashrani masuk ke surga, maka dia telah murtad
dari Islam.
b. Islam
Tidak Memaksa Manusia untuk Masuk ke Dalam Agama Islam
Ayat lain
yang sering digunakan dalil untuk membenarkan ide pluralisme adalah ayat;
لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ
مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ
اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ
عَلِيمٌ
“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam);
sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu
barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka
sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak
akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (al-Baqarah 2:256)
Surat al-Baqarah ayat 256 ini sering dieksploitasi
untuk membenarkan ide pluralisme. Mereka menyatakan, Islam tidak memaksa
pemeluk agama lain untuk masuk ke dalam Islam, bahkan mereka dibiarkan tetap
dalam agama mereka. Ini menunjukkan, bahwa Islam mengakui kebenaran agama
selain Islam (pluralisme), tidak hanya sekedar mengakui pluralitas (keragaman)
agama.
Koreksi:
Sesungguhnya, ayat ini tidak bisa digunakan dalil
untuk membenarkan ide pluralisme. Ayat ini hanya berbicara pada konteks “tidak
ada pemaksaan bagi penganut agama lain untuk masuk Islam”. Sebab, telah tampak
kebenaran Islam melalui hujjah dan dalil yang nyata. Oleh karena itu, Islam
tidak akan memaksa penganut agama lain untuk masuk Islam. Ayat ini sama sekali
tidak menunjukkan, bahwa Islam membenarkan keyakinan dan ajaran agama selain
Islam. Bahkan, ayat ini telah menunjukkan dengan sangat jelas, bahwa kebenaran
itu ada di dalam agama Islam, sedangkan agama yang lain jelas-jelas bathilnya.
Hanya saja, kaum Muslim tidak diperbolehkan memaksa penganut agama lain untuk
masuk ke dalam Islam.
Imam Qurthubiy di dalam Tafsir Qurthubiy
menyatakan, bahwa yang dimaksud dengan al-diin pada ayat di atas (al-Baqarah
2:256) adalah al-mu’taqid wa al-millah (keyakinan dan agama). Sedangkan
kandungan isi ayat ini, seperti yang dituturkan oleh Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir
Ibnu Katsir, adalah; sesungguhnya seorang Muslim tidak boleh memaksa orang kafir
untuk masuk Islam. Sebab, kebenaran Islam telah terbukti berdasarkan hujjah
yang terang dan gamblang; sehingga, tidak perlu lagi memaksa para penganut
agama lain untuk masuk ke dalam Islam.
Ayat ini tidak berhubungan sama sekali dengan ide
pluralisme yang diusung oleh kaum pluralis. Bahkan, ayat ini menyatakan dengan
jelas, bahwa Islam adalah agama yang paling benar, sekaligus menolak truth
claim agama-agama selain Islam. Tidak adanya pemaksaan atas penganut agama lain
untuk masuk Islam hanya menunjukkan bahwa Islam mengakui identitas agama
mereka. Akan tetapi, Islam tidak mengakui sama sekali truth claim agama mereka.
Bahkan, kaum Muslim diperintahkan untuk mengajak orang-orang kafir masuk ke
dalam agama Islam dengan hujjah dan hikmah.
لِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا هُمْ نَاسِكُوهُ
فَلَا يُنَازِعُنَّكَ فِي الْأَمْرِ وَادْعُ إِلَى رَبِّكَ إِنَّكَ لَعَلَى هُدًى
مُسْتَقِيمٍ
“Tiap umat
mempunyai cara peribadatan sendiri, janganlah kiranya mereka membantahmu dalam
hal ini. Ajaklah mereka ke jalan Rabbmu. Engkau berada di atas jalan yang
benar.” (al-Hajj 22:67)
c. Surat
al-Maidah 5:69 dan Surat al-Baqarah 2:62
Dua ayat ini juga sering digunakan dalil oleh kaum
pluralis untuk membenarkan paham pluralisme. Mereka menyatakan, bahwa dua ayat
ini menyatakan dengan sangat jelas, bahwa Islam mengakui kebenaran agama-agama
selain Islam, bahkan mereka juga memiliki kans yang sama untuk masuk ke dalam
surganya Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dua ayat tersebut adalah:
إِنَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا
وَالصَّابِئُونَ وَالنَّصَارَى مَنْ ءَامَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ
وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
“Sesungguhnya orang-orang Mukmin, orang-orang Yahudi,
orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang
benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan
menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan
tidak (pula) mereka bersedih hati.”(al-Maidah 5:69)
إِنَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا
وَالنَّصَارَى وَالصَّابِئِينَ مَنْ ءَامَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ
وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ
وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
“Sesungguhnya orang-orang mu’min, orang-orang Yahudi,
Shabiin dan orang-orang Nasrani, siapa saja (di antara mereka) yang benar-benar
beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, maka tidak ada
kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”
(al-Baqarah 2:62).
Sesungguhnya, ayat ini sama sekali tidak ada
hubungannya dengan penganut agama lain yang ada pada saat ini. Sebab, topik
yang diperbincangkan ayat tersebut adalah umat-umat terdahulu sebelum diutusnya
Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ayat ini menjelaskan kepada
kita, bahwa umat-umat terdahulu, baik Yahudi, Nashrani, Shabi’un, yang taat
kepada ajaran agamadan Rasulnya, maka mereka akan mendapatkan pahala di sisi
Allah Subhanahu wa Ta’ala. Akan tetapi, ayat di atas tidak menunjukkan
pengertian, bahwa Islam mengakui truth claim agama-agama lain yang ada pada
saat ini, baik Yahudi, Nashrani, Zoroaster, dan sebagainya. Dua ayat di atas
tidak menunjukkan pengertian, bahwa pemeluk agama lain yang ada pada saat ini
juga memiliki kans yang sama untuk masuk ke dalam surganya Allah Subhanahu
wa Ta’ala, seperti halnya pemeluk agama Islam. Sebab, nash-nash al-Quran
dan Sunnah dengan jelas menyatakan, bahwa setelah diutusnya Muhammad Shallallahu
‘Alaihi wa Sallam, seluruh manusia diperintahkan untuk meninggalkan agama
mereka. Bahkan, Islam telah menjelaskan kesesatan dan kekafiran semua agama
yang ada pada saat ini; baik agama Yahudi, Nashrani, maupun agama kaum Musyrik
(Budha, Hindu, Konghucu, dan lain-lain).
Untuk menafsirkan surat al-Baqarah ayat 62, ada
baiknya kita simak penuturan ahli tafsir berikut ini:
Menurut al-Sudiy, ayat ini (al-Baqarah 2:62)
turun berkenaan dengan shahabat-shahabatnya (pendeta-pendeta) Salman al-Farisi;
tatkala ia menceritakan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
kebaikan-kebaikan mereka. Salman ra bercerita kepada Nabi Shallallahu
‘Alaihi wa Sallam, “Mereka mengerjakan shalat, berpuasa, dan beriman kepada
kenabian Anda, dan bersaksi bahwa Anda akan diutus oleh Allah Subhanahu wa
Ta’ala sebagai seorang Nabi.” Tatkala Salman selesai memuji para
shahabatnya, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Ya Salman,
mereka termasuk ke dalam penduduk neraka.” Selanjutnya, Allah Subhanahu wa
Ta’ala menurunkan ayat ini. Lalu hal ini menjadi keimanan orang-orang
Yahudi; yaitu, siapa saja yang berpegang teguh terhadap Taurat, serta perilaku
Musa as hingga datangnya Isa as (maka ia selamat). Ketika Isa as telah diangkat
menjadi Nabi, maka siapa saja yang tetap berpegang teguh kepada Taurat dan
mengambil perilaku Musa as, namun tidak memeluk agama Isa as, dan tidak mau
mengikuti Isa as, maka ia akan binasa. Demikian pula orang Nashrani. Siapa saja
yang berpegang teguh kepada Injil dan syariatnya Isa as hingga datangnya
Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka ia adalah orang Mukmin yang
amal perbuatannya diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Namun,
setelah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam datang, siapa saja yang
tidak mengikuti Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan tetap
beribadah seperti perilakunya Isa as dan Injil, maka ia akan mengalami
kebinasaan.”
Imam Ibnu Katsir menyatakan, “Setelah ayat ini
diturunkan, selanjutnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan surat,
“Barangsiapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidaklah akan
diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang
merugi.”[Ali Imran 3:85]. Ibnu ‘Abbas menyatakan, “Ayat ini menjelaskan bahwa
tidak ada satupun jalan (agama, kepercayaan, dll), ataupun perbuatan yang
diterima di sisi Allah, kecuali jika jalan dan perbuatan itu berjalan sesuai
dengan syari’atnya Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Adapun, umat
terdahulu sebelum nabi Muhammad diutus, maka selama mereka mengikuti ajaran nabi-nabi
pada zamanya dengan konsisten, maka mereka mendapatkan petunjuk dan memperoleh
jalan keselamatan.” Inilah pengertian surat al-Baqarah 2:62; dan surat
al-Maidah 5:59.
Dari uraian di atas jelaslah, dua ayat di atas
ditujukan kepada umat-umat terdahulu sebelum diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu
‘Alaihi wa Sallam. Topiknya sangat jelas, bahwa umat-umat terdahulu yang
mengikuti agama nabinya dengan konsisten pada zaman itu; semisal umat Yahudi
yang konsisten mengikuti kitab Taurat, menyakini dan menjalankan isinya, maka
mereka akan mendapatkan pahala di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Adapun
setelah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam diutus di muka bumi
ini, maka tidak ada satupun agama – selain Islam — yang mampu menyelamatkan
pemeluknya dari kekafiran, kecuali jika mereka mau memeluk Islam. Ayat ini sama
sekali tidak menunjukkan, bahwa ahlul kitab dan kaum musyrik – setelah
diutusnya Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam — terkategori muslim,
dan berhak memperoleh pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Selain itu, pemelintiran makna yang dilakukan oleh
kelompok pluralis terhadap ayat-ayat itu [al-Baqarah 2:62 dan al-Maidah 5:69],
tentu saja akan bertolak belakang dengan sabda Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi wa Sallam. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
bersabda, “Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, tidaklah seseorang
dari manusia yang mendengar aku, Yahudi, dan Nashrani, kemudian mati, sedangkan
ia tidak beriman dengan apa yang diturunkan kepadaku, kecuali ia menjadi
penghuni neraka.” [HR. Muslim dan Ahmad]
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
bersabda, “Tidak ada nabi, di antara aku dan ia, yakni ‘Isa as, sesungguhnya ia
adalah tamu. Bila kalian melihatnya, maka kalian akan mengenalnya sebagai
seorang laki-laki yang mendatangi sekelompok kaum yang berwarna merah dan
putih, seakan kepalanya turun hujan, bila ia tidak menurunkan hujan, maka akan
basah, Dan ia akan memerangi manusia atas Islam, menghancurkan salib, membunuhi
babi, mengambil jizyah, saat itu Allah menghancurkan seluruh agama kecuali
Islam, sedangkan ‘Isa as menghancurkan Dajjal. Dan ia berada di muka bumi
selama 40 tahun, kemudian wafat dan kaum muslimin menshalatkannya.” (HR. Abu
Dawud)
Al-Quran sendiri telah memberikan predikat Ahli Kitab
– Yahudi dan Nashrani — sebagai orang-orang musyrik. Allah Subhanahu wa
Ta’ala berfirman: “Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.”
(al-Taubah 9:31). Redaksi sebelumnya dinyatakan, bahwa orang-orang Yahudi
berkata, “‘Uzair adalah putera Allah” dan orang Nashrani berkata,” Al Masih
putera Tuhan”.
Ayat ini menjelaskan kepada kita, bahwa orang-orang
Yahudi dan Nashrani terkategori kaum musyrik, bukan Muslim. Lantas, bagaimana
bisa disimpulkan; kaum Yahudi dan Nashrani yang ada sekarang ini terkategori
Muslim dan berhak mendapatkan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.,
sementara itu mereka telah kafir dan musyrik? Bukankah Allah Subhanahu wa
Ta’ala. telah berfirman di dalam al-Quran:
“Oleh karena itu, siapa yang mempersekutukan Allah,
maka ia tidak diperkenankan oleh Allah masuk surga, dan tempat kembalinya
adalah neraka.”(al-Maidah 5:72).
“Sungguh telah kafir mereka yang mengatakan bahwa
Tuhan itu ketiga dari yang ke tiga, padahal Tuhan itu hanya satu. Jika mereka
belum berhenti berkata demikian, tentulah mereka yang kafir itu, akan mendapat
siksa yang sangat pedih.” (al-Maidah 5:73)
“Sesungguhnya agama yang diridlai di sisi Allah
hanyalah Islam.”(Ali Imran 3:19)
“Barangsiapa mencari agama selain Islam, maka
sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat
termasuk orang-orang yang merugi.” (Ali Imran 3:85).
Dari seluruh uraian di atas dapat disimpulkan, bahwa
surat al-Baqarah ayat 62 dan surat al-Maidah ayat 59 sama sekali tidak
berhubungan dengan paham pluralisme.
d. Ayat
Tentang Kalimatun Sawa’
Para
pengusung ide pluralisme juga menggunakan ayat-ayat al-Quran yang berbicara
tentang kalimatun sawa’.
قُلْ يَاأَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ
سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ
بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ
فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ
“Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang)
kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan
kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia
dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain
sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada
mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada
Allah).” (Ali Imran 3:64)
Para pengusung gagasan pluralisme mengatakan, bahwa
agama Yahudi, Kristen, dan Islam merupakan agama langit yang memiliki
prinsip-prinsip ketuhanan dan berasal dari Tuhan yang sama. Lebih jauh mereka
juga menyatakan, bahwa umat Islam, Yahudi, dan Kristen berasal dari keturunan
Ibrahim as; sehingga ketiga pemeluk agama besar itu memiliki akar kesejarahan
dan nasab yang sama. Mereka pun menyimpulkan, bahwa tidak ada perbedaan antara
Islam, Yahudi, dan Nashrani dalam masalah ketuhanan. Semua menyembah kepada Allah,
dan sama-sama berpegang kepada kalimat sawa’. Dengan kata lain, Islam pun pada
dasarnya mengakui kebenaran konsep ketuhanan agama Yahudi dan Kristen sekarang
ini. Akhirnya, agama Yahudi, Kristen, dan Islam adalah sama-sama benarnya dan
sama-sama punya kans masuk ke surganya Allah Subhanahu wa Ta’ala..
Sesungguhnya, penafsiran kaum pluralis tersebut, benar-benar telah menyimpang
jauh dari makna sebenarnya.
Untuk mengetahui makna hakiki dari frase kalimat
sawa’, kita dapat merujuk kepada ulama tafsir yang lebih kredibel dan netral
dari kepentingan Barat, diantaranya adalah Imam Ibnu Katsir.
Menurut Ibnu Katsir, frase “kalimat” di dalam surat
Ali Imran ayat 64 tersebut dipakai untuk menyatakan kalimat sempurna yang dapat
dipahami maknanya. Kalimat sempurna itu adalah “sawaa’ bainanaa wa bainakum”
(yang sama, yang tidak ada perbedaan antara kami dengan kalian). Frase ini
merupakan sifat yang menjelaskan kata “kalimat” yang memiliki makna dan
pengertian tertentu. Adapun makna hakiki yang dituju oleh frase “kalimatun
sawaa’ sawaa’ bainanaa wa bainakum” adalah kalimat tauhid, yaitu “allaa
na’budu illaa Al-Allah” (hendaknya kita tidak menyembah selain Allah).
Inilah makna sesungguhnya dari kalimat sawa’, yaitu kalimat Tauhid; yang
menyatakan bahwa tidak ada sesembahan (ilah) yang berhak untuk disembah kecuali
Allah Subhanahu wa Ta’ala.; bukan patung, rahib, api, dan sebagainya.
Kalimat ini (kalimat tauhid) adalah kalimat yang dibawa dan diajarkan oleh
seluruh Rasul yang diutus oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala., termasuk di
dalamnya Musa as dan Isa as. Allah Subhanahu wa Ta’ala. berfirman:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ
اُعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
“Dan
sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah
Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”.” (al-Nahl 16:36)
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا
نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ
“Dan Kami
tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan
kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah
olehmu sekalian akan Aku”. (al-Anbiyaa’ 21:25)
Dari sini dapat disimpulkan, bahwa surat Ali Imran
ayat 64 di atas sama sekali tidak menyerukan kesatuan agama, atau pembenaran
Islam atas truth claim agama-agama selain Islam. Sebaliknya, ayat tersebut
justru berisikan ajakan kepada ahlul kitab (baik Yahudi dan Nashrani) untuk
kembali mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala., sebagaimana yang telah
diajarkan pertama kali oleh Musa as dan Isa as. Sebab, kaum Yahudi dan Nashrani
telah menyimpang jauh dari konsepsi Tauhid. Mereka telah menjadikan ahbar
(pendeta-pendeta) dan ruhban (rahib-rahib) sebagai sesembahan selain Allah Subhanahu
wa Ta’ala.. Hal ini telah dijelaskan di dalam al-Quran dengan sangat jelas.
Allah Subhanahu wa Ta’ala. berfirman:
اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا
مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا
لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا
يُشْرِكُونَ
“Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan
rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan)
Al Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha
Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari
apa yang mereka persekutukan.” (al-Taubah 9:31)
Walaupun ayat ini tidak menyatakan, bahwa ahbar itu
ditujukan khusus untuk kaum Yahudi, dan ruhban untuk kaum Nashrani, akan tetapi
konsensus pengguna bahasa Arab telah memahami, bahwa dua kata tersebut khusus
untuk orang Yahudi dan Nashrani.
Dari sinilah bisa dipahami, bahwa ayat ini merupakan
seruan kepada orang Yahudi dan Nashrani agar mereka kembali ke jalan Tauhid,
setelah mereka menyimpang jauh dari jalan tersebut (tauhid); yaitu ketika orang
Yahudi mengatakan bahwa Uzair itu anak Allah, dan tatkala orang Nashrani
mengatakan bahwa Isa as adalah putera Tuhan. Surat Ali Imran di atas tidak lain
tidak bukan adalah ajakan agar orang Yahudi dan Nashrani meninggalkan kemusyrikannya
dan kembali menyembah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. semata, dan
mengikuti ajaran Mohammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Demikianlah, ayat ini sama sekali tidak berbicara pada
konteks kesatuan dan kesamaan agama seperti yang dinyatakan oleh kaum pluralis.
Ayat ini sama sekali juga tidak menunjukkan, bahwa Islam mengakui gagasan
pluralisme yang dijajakan di negeri kaum Muslim. Sebaliknya, ayat ini merupakan
ajakan dan seruan kepada ahlul kitab agar mereka kembali kepada jalan yang
lurus, yakni agama Tauhid seperti yang telah diajarkan oleh Musa dan Isa as. Wallâh
a’lam bi al-shawâb (Syamsuddin Ramadhan - Lajnah Tsaqafiyyah HTI).
Sumber:
http://www.khabarislam.com/pluralisme-bertentangan-dengan-islam-haram-menyebarkan-dan-menerapkannya.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.